Final nomor estafet putri di Energen Champion SAC National Championship di Stadion Madya pada Jumat (13/1)

Atletik merupakan salah satu cabang olahraga yang populer di Indonesia. Peminatnya banyak. Terutama di kalangan pelajar. Saat SAC Indonesia menyelenggarakan kompetisi pelajar di tahun 2022, sebanyak 30.000 siswa dari seluruh Indonesia terlibat sebagai peserta. Membuktikan bahwa atletik membawa pengaruh yang besar. 

Istilah “atletik” masih berkaitan dengan kata “athlete” dalam bahasa Inggris. Dan didasarkan pada dua kata dalam Bahasa Yunani yang digabungkan. Yakni athlon yang berarti kontes. Dan athlos yang berarti hadiah. Secara harfiah, athlete juga bisa diartikan sebagai seseorang yang berkompetisi untuk mendapatkan hadiah. 

Sama seperti asal katanya, akar atletik dan sejarahnya sebelum mendunia juga dapat ditemukan di peradaban Yunani Kuno. Dimulai dengan perlombaan footrace di Olympic Games tahun 776 SM. Yang sempat merosot karena kekuasaan Kekaisaran Kristen Romawi Theodosius I. Hingga bangkit lagi dalam era renaisans. Kemudian mendunia hingga ke Indonesia. 

Sejarah Atletik di Indonesia 

Perkembangan olahraga modern di Indonesia memiliki hubungan kuat dengan kolonialisme. Sehingga, sejarah atletik di Tanah Air juga erat kaitannya dengan Pemerintah Hindia Belanda. Jurnal berjudul Sport, modernity and nation building: The Indonesian National Games of 1951 and 1953 karya Colin Brown menyebutkan bahwa, atletik awalnya menjadi materi dalam pendidikan di sekolah menengah pada tahun 1910-an.  

Setelah penduduk Indonesia tahu bahwa atletik memiliki manfaat besar, cabor tertua di dunia itu mendapatkan banyak perhatian. Pendukungnya juga bertumbuh. Bahkan di luar dunia pendidikan. Dikatakan dalam jurnal tersebut bahwa pertumbuhan atletik di Indonesia juga dipengaruhi oleh social cum-sporting clubs

Ada banyak klub atletik Belanda yang didirikan di Indonesia pada awal abad ke-20. Misalnya, ISV, Hellas dan IAC di Jakarta. Ada juga ABA di Solo. Dan PAS yang ada di Surabaya. Menurut catatan dokumen, masih banyak lagi klub-klub atletik lainnya di kota-kota besar. Pada 1917, persatuan atletik khusus Hindia Belanda dibentuk. Namanya Nederlandsche Indische Athletik Unie (NIAU). 

Baca Juga: Mengenal Sejarah Atletik, Cabang Olahraga Paling Tua di Dunia

Menurut publikasi bertajuk Sejarah Olahraga Indonesia yang diterbitkan Direktorat Jenderal Olahraga, Departemen Pendidikan Nasional menunjukkan bahwa klub-klub seperti ISV, Hellas dan IAC adalah anggota NIAU. Yang saat itu adalah satu-satunya organisasi penyelenggara kompetisi atletik. 

Proklamasi kemerdekaan Indonesia mengubah semua lini kehidupan. Termasuk organisasi olahraga. Pada tahun 1947, Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI) dibentuk. Yang saat itu langsung diresmikan oleh Presiden Soekarno. Tepatnya setelah diadakan kongres olahraga pertama di Solo pada 18-20 Januari. Seperti organisasi olahraga pada umumnya, PORI diharapkan dapat menjadi persatuan kegiatan olahraga nasional. 

PORI juga memiliki salah satu divisi yang mengurusi cabang olahraga atletik. Namun dua tahun berselang, PORI memutuskan agar tak lagi terlibat langsung dengan olahraga perorangan. Menyusul fenomena itu, divisi atletik dari PORI membentuk kembali dirinya sebagai Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) lahir pada 3 September tahun 1950. Membuat NIAU tak lagi eksis.

Di tahun yang sama terbentuknya PASI, diselenggarakan Kejuaraan Nasional Atletik yang pertama di Kota Bandung. Yang berulang setiap tahun sekali. Tahun 1952 digelar di Surabaya, tahun 1953 di Medan. Bersamaan dengan PON ke III. Tahun-tahun berikutnya atletik berkembang. Berbagai kejuaraan pun juga diselenggarakan. 

Prestasi Atletik Indonesia di Kancah Internasional 

Asian Games IV tahun 1962 adalah kompetisi internasional yang menjadi titik balik kebangkitan olahraga Indonesia. Saat itu, Mohammad Sarengat, sprinter asal Indonesia, menyabet medali emas pertama. Dengan catatan waktu 10,4 detik. Selama bertahun-tahun setelah namanya mentereng di Asian Games, Sarengat mengantongi julukan sebagai “Manusia Tercepat di Asia.”

Gebrakan Mohammad Sarengat di Asian Games membangkitkan semangat dan sikap optimistis para pemuda Tanah Air. Salah satunya adalah Purnomo Yudhi. Yang menekuni atletik karena terinspirasi olehnya. Karena bakat dan ketekunannya, Purnomo menjadi wakil Asia yang lolos semifinal Olimpiade tahun 1984 di Los Angeles untuk nomor lari 100 meter kategori putra. 

Selain Purnomo, ada satu nama lagi di masa lalu yang berhasil mengharumkan nama Indonesia. Adalah Mardi Lestari. Sprinter Indonesia kelahiran Binjai yang dengan mudah menaklukan panggung SEA Games tahun 1989, 1991 dan 1993. Salah satu rekor terbaiknya adalah 10,20 detik. Yang berhasil ia pegang selama 20 tahun lamanya. 

Rekor Indonesia untuk nomor lari jarak pendek 100 meter semakin menajam setiap tahunnya. Sebelum Lalu Muhammad Zohri menjadi pelari Indonesia yang memegang rekor nasional, ada nama Suryo Agung Wibowo yang juga mentereng di nomor yang sama. Suryo memegang rekor dengan catatan 10,17 detik. Berhasil menaklukan SEA Games 2009. 

Nama Atletik Indonesia semakin cemerlang dengan prestasi Zohri. Sprinter asal Lombok, NTB itu menjuarai World 20 Championships di Finlandia. Dengan catatan waktu 10,18 detik. Pada Mei 2019, Zohri berhasil mengantongi catatan waktu 10,03 detik, meskipun ia tak berhasil meraih juara. (*)

  RELATED ARTICLES