Para peserta nomor lari 1.000 meter putra beraksi di Energen Champion SAC National Championship

Bicara soal olahraga nggak lengkap rasanya kalau belum membahas atletik. Orang mengatakan, atletik adalah ibunya olahraga. Atau dalam bahasa Inggris biasanya disebut sebagai mother of sports. Hal itu berdasarkan fakta bahwa atletik adalah cabang olahraga paling tua di dunia. Keberadaan atletik sendiri beriringan dengan zaman Yunani Kuno. 

Atletik biasanya juga disebut sebagai olahraga lintasan dan lapangan (track and field). Yang aktivitasnya terdiri dari lari, lompat, lempar dan jalan. Lintasan, lapangan, alam lepas hingga jalan raya adalah media kompetisi atletik yang paling umum digunakan. Hasil akhir dari semua kompetisi ini ditentukan oleh waktu tercepat atau jarak terjauh. 

Tetapi, sebelum kita membahas lebih jauh mengenai atletik, ada baiknya kita mengenal dulu sejarah cabang olahraga atletik, perkembangannya dan bagaimana atletik bisa menjadi cabor populer dalam Olimpiade. 

Sejarah Kompetisi Balap Kaki Pertama

Menurut buku berjudul Athletics From Ancient Times To The End of 19th Century, karya Roberto Gesta de Melo, sejarah atletik dimulai dari peradaban Yunani Kuno. Saat itu, aktivitas dan kompetisi olahraga merupakan bagian dari pendidikan kaum muda. Dalam masa itu pula, ada mega festival olahraga bernama Panhellenic Games. Yang menjadi cikal bakal dari Olimpiade modern. 

Mega festival olahraga Panhellenic Games memiliki empat festival turunan. Yakni Olympic Games, yang terbesar di antara yang lainnya, Pythian Games, Nemean Games dan Isthmian Games. Masing-masing juga memiliki tujuan penyembahan dewa. 

Olympic Games digelar untuk menghormati Zeus, Pythian Games digelar untuk menghormati Apollo, Nemean Games diadakan untuk menghormati Zeus dan Heracles, sedangkan Isthmian Games diadakan untuk menghormati Poseidon. Dari keempatnya, Olympic Games menjadi festival yang memiliki pengaruh besar dalam dunia olahraga modern. Termasuk cabang olahraga atletik.

Bukti dokumen dan jejak koin menunjukkan, Olympic Games pertama diadakan di Olympia, Ellis, Yunani pada 776 SM. Saat itu, Olympic Games hanya menyelenggarakan satu kompetisi. Yakni footrace (balap kaki). Juara pertamanya adalah Coroebus of Ellis. Seorang koki dan juru masak ternama dari Ellis. Hingga saat ini, Coroebus adalah pemegang gelar "pemenang Olimpiade pertama dalam sejarah.” 

Baca Juga: Populer di Kalangan Pelajar, Begini Sejarah Atletik di Indonesia

Footrace yang diselenggarakan dalam Olympic Games adalah kompetisi lari sepanjang 192,27 meter. Jarak tersebut sama seperti panjang stadionnya. Perlombaan footrace dalam Olympic Games kemudian berkembang dalam penyelenggaraan Olympic Games ke-14. Saat itu, ada penambahan cabang perlombaan footrace baru dengan panjang jarak dua kali stadion. 

Penyelenggaraan Olympic Games ke-15 juga menjadi titik balik perlombaan lari modern. Salah satu kompetisinya mengadu ketahanan para peserta. Di mana mereka harus berkeliling stadion sebanyak 12 kali. Dengan total jarak tempuh 4,5 kilometer. 

Perlombaan lari atau jejak sejarah atletik dalam Panhellenic Games tak hanya tersedia dalam Olympic Games saja. Footrace juga digelar dalam Nemean Games. Dan menyediakan beberapa cabang perlombaan dengan jarak yang berbeda. Mulai dari 178 meter, 355 meter hingga 710 meter. Ada juga cabang permainan bernama Pentathlon. Yang terdiri dari aktivitas perlombaan gulat atau pale, lempar lembing, lempar cakram dan lompat jauh.

Kemerosotan Kompetisi Yunani Kuno

Kompetisi sempat merosot memasuki abad ke-2 M. Perlombaan Kuno yang berkaitan dengan pemujaan dewa secara resmi dihapuskan pada tahun 393 M. Ini merupakan akibat dari kekuasaan Kaisar Kristen Romawi Theodosius I. Dan adanya tindakan keras dengan kegiatan penyembahan dewa (Paganisme), termasuk penghancuran kuil-kuil tua. Selain itu, orang-orang Romawi lebih menyukai kompetisi bertemakan pertarungan. Gladiator, misalnya.

Selama Middle Ages atau Abad Pertengahan, dengan dominasi agama Kristen di Eropa, festival olahraga kuno yang memiliki unsur Paganisme dianggap sebagai dosa. Perlombaan atletik, seperti yang dikenal di masa lalu, lenyap begitu saja. Bahkan, hanya sedikit orang yang bisa melakukan kemampuan sederhana seperti membaca. Tak heran, jika kompetisi olahraga kuno sempat dilupakan selama lebih dari 1.000 tahun.

Kebangkitan dan Mulai Mendunianya Olympic Games

Renaisans terbukti tak hanya merubah pemikiran terkait dunia, agama, pendidikan dan ekonomi. Melainkan juga bidang olahraga. Berkat ditemukannya mesin cetak oleh Johannes Gutenberg di tahun 1439, cerita mengenai peradaban Yunani mulai tersebar melalui karya tulis. Kata-kata seperti Olympics dan Olympics Games sering digunakan sejak saat itu. 

Menurut Oxford English Dictionary, penggunaan pertama kata Olympian dalam bahasa Inggris dapat ditemukan dalam karya William Shakespeare berjudul Henry VI. Karya tersebut ditulis sekitar tahun 1591. Dengan lahirnya era baru, festival olahraga di Eropa dan berbagai penjuru dunia mulai menggunakan unsur-unsur perlombaan dari Yunani kuno.

Beberapa festival olahraga di Inggris akhirnya juga mengikuti trend dengan menyerap nama “Olympic.” Misalnya, Much Wenlock Olympian Games dan British Olympic Festivals. Hingga sekarang, dua festival tersebut juga sangat berpengaruh terhadap penghidupan kembali Olimpiade modern. 

Dr. William Penny Brookes, atau yang dikenal sebagai pencetus Olimpiade modern, merupakan seorang dokter yang lahir di Much Wenlock, Shropshire, Inggris, pada 1809. William sangat terkenal untuk masanya. Pada Oktober 1850, dia mengadakan Much Wenlock Olympian Games pertama.

Sementara itu, di Yunani, dorongan untuk memulai kembali Olimpiade Game juga getol dilakukan. Pada tahun 1833, seorang penulis dan jurnalis asal Athena bernama Panagiotis Soutsos, menerbitkan karya-karya agar Olimpiade baru diadakan. Akhirnya, pada tahun 1859, Olimpiade Nasional Yunani, juga dikenal sebagai Zappas Games digelar di Athena. Nama “Zappas” sendiri diambil dari sosok yang membiayai utama kompetisi tersebut. Yakni Maecenas Evangelis Zappas.

Lahirnya Olimpiade Modern 1896

Lahirnya Olimpiade Modern atau Summer Olympics Games tak lepas dari Baron Pierre de Coubertin. Ia merupakan founder dari Olimpiade modern. Dan sosok penting yang mengabdikan hidupnya untuk pendidikan serta sejarah dunia. 

Pierre memang sangat peduli dengan Olympic Games kuno yang diadakan di Olympia, Yunani. Hingga membuatnya mendirikan International Olympic Committee (IOC) pada 1894.  Saat itu, ia ingin membangun dunia yang damai dan lebih baik dengan mendidik kaum muda melalui olahraga. Akhirnya, Olimpiade pertama di era modern diadakan pada tahun 1896 di Athena.

Olimpiade modern pertama melombakan 43 event. Termasuk nomor lintasan dan lapangan untuk atletik, senam, renang, bersepeda, angkat besi, gulat, tenis hingga anggar. Event lintasan dan lapangan sendiri berlangsung di Stadion Panathenaic. Konon, stadion tersebut sudah ada sejak 330 SM. Dan kerap digunakan sebagai kompetisi kuno. Menjelang Olimpiade pertama 1896 stadion tersebut direnovasi. 

Sebanyak 14 bangsa ikut berlomba di Olimpiade modern pertama. Semuanya diwakili oleh atlet pria. Dengan perlombaan maraton menjadi sorotan utama. Saat itu, Spyridon Louis dari Yunani keluar sebagai juara. Sementara itu, James Connolly dari AS membawa pulang medali emas pertama kompetisi lompat ganda. Connolly juga memenangkan medali perak di lompat tinggi dan perunggu di lompat jauh. 

Olimpiade 1896 dianggap sukses besar. Kompetisi tersebut mencatatkan partisipasi internasional terbesar dari semua acara olahraga di masa itu. Stadion Panathenaic juga full penonton. Setelah perlombaan, beberapa tokoh terkemuka, termasuk Raja George dari Yunani, juga beberapa petinggi di Athena, memohon pada Coubertin dan IOC agar semua Olimpiade berikutnya diadakan di Athena.

Sejak saat itu, Olimpiade modern telah berkembang seiring waktu. Dan menambahkan banyak cabang olahraga. Termasuk berbagai nomor dan kategori dalam atletik. Misalnya, lomba lari estafet baru dimasukkan dalam event kompetisi Olimpiade di tahun 1912, sedangkan tolak peluru kategori putri baru ditambahkan di tahun 1948. 

Lahirnya IAAF

Bicara soal atletik, juga harus membicarakan induk organisasinya. Yakni World Athletics. Atau dulu lebih dikenal dengan nama International Amateur Athletic Federation, sebelum pergantian pertama menjadi International Association of Athletics Federations (IAAF). 

Proses pendirian IAAF dimulai di Stockholm, Swedia. Tepatnya 18 Juli 1912. Tak lama setelah Summer Olympics ke-5 tahun 1912 digelar di kota itu. Pada pertemuan tersebut, sebanyak 27 perwakilan dari 17 federasi nasional setuju untuk membicarakan induk organisasi atletik dalam kongres di Berlin, Jerman. Pada tahun berikutnya, diadakan kembali kongres serupa dan secara resmi melahirkan IAAF. 

IAAF dalam hal ini bertugas untuk membuat semua peraturan yang berkaitan dengan olahraga atletik dan kompetisi yang menyertainya. Mulai dari, juri, atlet, alat-alat yang digunakan hingga rekor dunia. 

Organisasi tersebut mempertahankan kata “amateur” dalam namanya hingga kongres tahun 2001. Pada bulan Juni 2019, organisasi tersebut memilih untuk berganti nama menjadi World Athletics, setelah World Championships 2019 diadakan di Doha, Qatar. (*)

  RELATED ARTICLES