Perlombaan estafet di SAC Indonesia

Perlombaan estafet dan sprint 400m merupakan salah satu kompetisi yang paling diminati di cabang olahraga atletik. Keduanya membutuhkan kecepatan dan teknik yang baik agar dapat bersaing melintasi satu lapangan penuh. 

Beberapa dari kalian mungkin penasaran kenapa start dalam lari estafet tak sejajar dan berbeda antar pelari pertama. Ada yang start tepat sebelum garis finish, ada juga yang start 2m di depan garis finish. Nah, kali ini SAC Indonesia akan membahas terkait kenapa start pelari dalam estafet dan sprint 400m tidak sejajar?

Sebenarnya, start pelari yang tidak sejajar dalam lari estafet dilakukan agar perhitungan jarak lintasannya tepat. Pada dasarnya, relay 4x100m membutuhkan jarak lintasan total 400m. Begitupun sprint 400m. Meskipun panjang lintasan terdalam dari lintasan atletik 400m, panjang lintasan terluar dari stadion lebih dari 400m. 

Sehingga, pelari terdalam atletik akan melakukan start di tepat di garis start. Sementara pelari yang lain akan berjarak lebih 2m lebih jauh dari posisi start. Ini bertujuan agar setiap pelari memiliki jarak yang sama, baik yang start di lintasan terdalam. Sedangkan pelari yang lain berada di lintasan terluar. 

Baca Juga: Mitos atau Fakta Lintasan Tengah Bisa Menguntungkan di Cabor Atletik?

Ketika Michael Johnson meraih rekor dunia 43,18 detik untuk 400m pada World Athletics Championships 1999, ia berada di lintasan kelima. Saat bersaing, Johnson hampir mengejar  pelari di lintasan keenam di belokan kedua, lalu memimpin seluruh pelari setelah belokan ketiga. Itu terjadi karena tak ada lintasan lebih pendek atau lebih panjang ketika semua memakai start sesuai posisi. Sehingga, pelari memiliki kesempatan dan peluang yang sama di lintasan. 

Menurut penelitian, tidak ada keuntungan dan lintasan khusus dalam perlombaan lari. Adanya lintasan khusus merupakan mitos dalam atletik. Persaingan untuk semua lintasan tentunya setara. Itulah mengapa salah satu faktornya adalah meletakkan pelari secara berbeda dari masing-masing lintasan untuk perlombaan yang membutuhkan satu lap penuh. 

Sementara itu, untuk nomor lintasan yang kurang atau sampai 100m, biasanya menggunakan lintasan dengan start yang sejajar. Karena panjang lintasan untuk nomor tersebut tak sampai pada belokan pertama atau belokan kedua. (*)

  RELATED ARTICLES