Jika ada pertanyaan apakah sprinter perlu perlu berlari jawabannya pasti beragam. Ada yang mengatakan tidak perlu, ada yang menyebut harus, ada juga yang mungkin bergantung pada perintah pelatih. 

Lari jarak pendek atau lari cepat memang sangat baik untuk meningkatkan kesehatan seseorang. Terlepas dari itu, akan lebih baik jika seorang mengatur seberapa sering kamu latihan untuk berlari cepat sambil menghindari cedera dan latihan berlebihan.

Seberapa Sering Kamu Harus Berlari?

Biasanya, kamu harus melakukan sprint sekali setiap dua hingga tiga hari, atau setiap 48 hingga 72 jam.

Di sela-sela sesi sprint, kamu dapat melakukan latihan kekuatan, pengondisian, atau mengambil jeda istirahat.

Baca Juga: Lari Jarak Pendek: Pengertian, Sejarah, Teknik Dasar dan Manfaat

Pengertian Sprint

Secara definisi, sprint merupakan kegiatan untuk melibatkan penggunaan daya ledak untuk mempercepat tubuh ke kecepatan maksimum dalam jarak pendek.

Ada dua jenis utama sprint: sprint pendek dan sprint panjang. Sprint pendek biasanya kurang dari 200 meter, sedangkan sprint panjang bisa mencapai 400 meter.

Sprint melibatkan beberapa kelompok otot. Termasuk paha belakang, paha depan, bokong, dan betis. Sprint tentunya bisa membuatmu lebih berotot karena menciptakan tingkat ketegangan otot dan stres metabolik yang tinggi, karena mengaktifkan sebagian besar otot di tubuh.

Sprint juga merupakan cara yang efektif untuk meningkatkan kebugaran secara keseluruhan dengan meningkatkan daya tahan, kekuatan, dan tenaga. Diketahui bahwa sprint juga dapat meningkatkan kadar testosteron, meningkatkan kecepatan, dan membuat pelari menjadi atlet yang lebih baik secara keseluruhan.

Nah, untuk itu kamu harus berlatih dengan benar untuk mendapatkan manfaat dari berlari cepat ini, bukan hanya berlari setiap hari tanpa arahan. Selain itu, masukan dari pelatih juga sangat penting dalam olahraga ini. 

Frekuensi Latihan untuk Pelari

Jika kamu ingin latihan sprint efektif, kamu harus mengatur frekuensi latihan untuk menghindari cedera dan kelelahan.

Lakukan sprint 2 hingga 4 kali per minggu, dengan hari-hari lain dihabiskan untuk latihan kekuatan, lari tempo, atau istirahat total.

Jika kamu berlari setiap hari tanpa arahan, kamu bisa dengan mudah mengalami cedera, kelelahan sistem saraf pusat, atau kelelahan saat latihan.

Untuk mendapatkan hasil maksimal dari sprint, kamu perlu mengambil hari istirahat agar otot dan tubuh dapat pulih.

Jika ragu, ambil waktu istirahat satu atau dua hari setelah melakukan latihan sprint. Jika masih ingin berlatih di sela-sela latihan sprint, menggunakan gym atau lakukan sesuatu aktivitas yang lebih lambat daripada sprint.

Baca Juga: Mengenal Empat Tahapan dalam Lari Jarak Pendek

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Frekuensi Sprint

Seberapa sering kamu dapat melakukan sprint dengan aman akan bergantung pada faktor-faktor seperti:

-Tingkat pengalaman atlet

-Jadwal kompetisi

-Tujuan pelatihan

Atlet yang telah berlari selama bertahun-tahun akan memahami bagaimana tubuh mereka merespons latihan, dan mereka dapat menentukan frekuensi latihan sprint yang terbaik untuk mereka. Atlet pemula harus tetap berpegang pada pedoman pelatihan.

Saat berkompetisi, sprinter biasanya akan lebih jarang melakukan sprint karena mereka perlu istirahat yang cukup saat akan berlomba. Juga, latihan sprint selama fase kompetitif biasanya akan dilakukan dengan volume yang lebih sedikit daripada selama periode non-kompetitif. (*)

  RELATED ARTICLES